
Protes yang dimulai pada 28 Desember 2026 telah menjadi bagian dari sejarah Iran. Namun, demonstrasi ini tidak sebesar gelombang Mahsa Amini maupun seluas Gerakan Hijau. Yang paling menonjol, meski partisipasinya lebih terbatas dibandingkan pemberontakan sebelumnya, gelombang ini termasuk yang paling keras dari segi intensitas kekerasan. Awalnya, otoritas Iran menangani persoalan ini dengan sikap cukup memahami. Namun, setelah kelompok bersenjata dikerahkan ke lapangan, pemerintah Iran tidak lagi memandang kerusuhan itu sebagai protes, melainkan sebagai pemberontakan bersenjata.
Meski pejabat AS dan Israel menahan diri untuk tidak bereaksi pada hari pertama, pernyataan dukungan segera menyusul bertubi-tubi. Menurut laporan pers Israel, reaksi awal pemerintah Netanyahu adalah diam, agar tidak terlihat sebagai penyokong protes sehingga mencegah protes itu meredup. Namun, sikap diam ini singkat. Tampaknya ada tekanan agar otoritas Iran langsung memandang demonstran sebagai aset intelijen asing, sehingga kekerasan meningkat. Partai Kebebasan Kurdistan (PAK) melakukan kegiatan untuk meningkatkan kekerasan di Iran barat. Selain itu, Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK), sejumlah organisasi Baluch di tenggara, kelompok-kelompok terkait di timur laut, serta sel-sel ISIS-Khorasan diaktifkan.
Sepanjang protes, kebakaran terjadi hampir di mana-mana, pembunuhan yang menyasar individu tertentu dan serangan terhadap aparat keamanan berlangsung, serta gedung-gedung publik diserang. Warga sipil mengalami banyak korban; dalam satu kejadian tragis, seorang anak perempuan berusia 3 tahun tewas terbakar ketika menunggu ayahnya di mobil yang dibakar demonstran. Di tengah situasi ini, unggahan media sosial dari tokoh seperti mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang menyatakan "Mossad bersama kalian", serta pernyataan Presiden Donald Trump yang mendukung demonstran, membuat otoritas Iran menafsirkan peristiwa tersebut sebagai kelanjutan Perang 12 Hari.
Dengan menafsirkan peristiwa itu sebagai "ancaman eksistensial", otoritas Iran melakukan penindakan keras terhadap kerumunan pada malam Kamis, 8 Januari, tanpa membedakan pihak yang tidak bersalah dan yang bersalah. Akibatnya, terbentuk situasi yang menewaskan ribuan orang. Terminal Starlink yang diselundupkan untuk mengatasi pemutusan internet mula-mula dilacak lokasinya, lalu diblokir melalui operasi pengacauan sinyal besar-besaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa Teheran telah siap menghadapi skenario semacam itu dan sangat mungkin menerima dukungan Tiongkok untuk menanganinya.
Motif AS menyerang Iran
Pertama, jelas bahwa AS dan Israel bertindak bersama, sebagaimana dalam serangan Juni. Namun, kali ini Israel dengan cermat berusaha menjaga jarak, menggunakan penyamaran strategis agar terlihat tidak terkait dengan peristiwa tersebut. Hal ini dapat dipahami: Israel ingin menunda pembalasan Iran sekaligus, jika diserang, menjualnya kepada opini publik dunia sebagai perang defensif, bukan tampil sebagai agresor.
Pihak AS awalnya mengumumkan akan melancarkan serangan karena korban sipil dalam protes. Upaya tergesa-gesa untuk menyerang Iran pun dilakukan. Namun, Trump terpaksa mundur karena langkah diplomatik Turki, tekanan dari negara-negara Teluk untuk menghindari perang regional, serta keengganan elite keamanan Pentagon terkait biaya ketidaksiapan dan risiko terhadap sekutu. Meski demikian, menurut sumber terbuka, Trump telah memerintahkan agar rencana itu segera digarap.
Isu menyerang Iran masuk ke agenda Trump bersamaan dengan protes. Ia mengumumkan pengiriman "bantuan" kepada demonstran. Hingga saat ini, protes telah berakhir. Namun, Trump tetap menunjukkan niat menyerang. Arah tuntutan terhadap Iran pun telah berubah atau, dengan kata lain, harapan yang sesungguhnya telah diletakkan di atas meja. Sebab, jika persoalannya adalah sikap berprinsip terhadap kematian orang tidak bersalah, timbul pertanyaan: mengapa sikap serupa tidak diambil ketika orang-orang tidak bersalah dibakar hidup-hidup di Sudan dalam beberapa bulan terakhir, atau ketika 70.000 warga sipil tewas di Gaza? Begitu pula, jika persoalannya adalah rezim anti-Amerika, Iran bukan satu-satunya rezim anti-Amerika di dunia. Lantas, apa persoalan sebenarnya?
Persoalan mendasarnya adalah Israel gagal mencapai tujuan strategis dalam konflik 12 hari. Tidak satu pun dari tiga sasaran strategis yang diumumkan, yakni rudal balistik, program nuklir, dan jaringan proksi, sepenuhnya tercapai. Meski program nuklir Iran mengalami kerusakan besar, pengetahuan teknis dan tekad di baliknya tetap utuh. Demikian pula, ideologi yang mendasari jaringan proksi masih berkuasa di Iran. Terakhir, Iran bukan hanya berhasil mempertahankan sebagian besar kemampuan rudal balistiknya, tetapi juga memulihkannya ke tingkat sebelum konflik 12 hari melalui produksi berkelanjutan sejak Juni. Karena itu, Netanyahu terus mengangkat persoalan rudal balistik selama dua bulan. Bahkan, ketika protes masih damai, propaganda di Israel menyatakan, "Protes di Iran akan membesar, rezim akan melemah, dan karena itu, demi menghindari keruntuhan, rezim akan meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel," sebagai upaya membangun dasar legitimasi bagi serangan kedua.
Israel berpacu dengan waktu
Ada tiga alasan utama kegagalan Israel mencapai tujuan strategis dalam konflik 12 hari. Pertama, mereka tidak memiliki informasi intelijen yang dapat ditindaklanjuti untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Kedua, mereka tidak dapat menghitung jumlah rudal balistik dan lokasi silo secara akurat. Ketiga, mereka gagal menggerakkan kelompok bersenjata ideologis dan etnis di lapangan.
Selama tujuh bulan terakhir, sejumlah langkah restrukturisasi terlihat di Baluchistan dan di kalangan kelompok bersenjata Kurdi. PAK, organisasi yang relatif kecil tetapi aktif dalam protes, juga terlihat memperbaiki hubungannya dengan Israel. Salah satu klaim yang beredar adalah pemimpin PAK pergi ke Tel Aviv pada masa ini untuk bertemu pejabat Israel. Wawancara dengannya juga diterbitkan di Jerusalem Post.
Selain itu, konflik 12 hari memberi Iran kesempatan menguji kemampuannya sendiri. Iran mengamati bagaimana pertahanan udara Israel dapat dibanjiri serangan dan dengan kemampuan apa Israel dapat dihantam. Sejak itu, Iran berfokus pada produksi rudal balistik. Di sisi lain, karena jaringan dan sel yang dibina dengan cermat oleh badan intelijen selama bertahun-tahun diaktifkan dalam protes ini, kartu-kartu yang dimiliki untuk menghadapi intelijen Iran, dalam arti tertentu, telah terbuka. Karena dua alasan inilah Israel berpacu dengan waktu.
Ada pula kemungkinan seluruh operasi yang dijalankan tanpa mencapai tujuan strategis telah gagal dan sia-sia. Mereka harus memilih: menyaksikan dari jauh kelompok yang dibina bertahun-tahun dihancurkan unit keamanan Iran, atau bergerak saat momentum masih ada, sebelum sepenuhnya lenyap. Mengingat kemampuan rudal balistik Iran meningkat setiap hari, biaya konflik hari ini akan lebih rendah daripada pada musim panas. Karena itu, Israel ingin bertindak sebelum Iran menuntaskan pembangunan kemampuan rudal balistik dan persiapan pertahanannya. Namun, sebagaimana dinyatakan Netanyahu sejak 1992, hal ini mustahil tanpa kekuatan udara AS.
Dalam rangkaian yang disebutkan pada awal artikel, protes meningkat dan kesenjangan antara pemerintah dan masyarakat di jalanan melebar berkat kampanye media maupun aset yang dikerahkan ke lapangan. Konflik diperdalam untuk menanamkan kuat-kuat pesan "serangan itu sah" kepada dunia. Sejak hari itu, USS Abraham Lincoln bergerak menuju Iran.
Peluang keberhasilan
Ketika kemungkinan serangan putaran kedua terhadap Iran dibahas, apakah serangan semacam itu akan mencapai tujuannya tetap menjadi pertanyaan nyata. Karena protes muncul mendadak, rencananya disusun sangat cepat. Pada Mei–Juni, terdapat pengerahan militer besar-besaran dan sedikitnya dua gugus kapal induk di kawasan. Kini, hanya satu gugus yang dikirim tergesa-gesa. Di sisi lain, langkah terburu-buru semacam ini dapat mengandung berbagai kekeliruan perhitungan pada tingkat strategis. Kerentanan serius juga dapat muncul dalam intelijen yang dapat ditindaklanjuti, karena "kerahasiaan", syarat utama keamanan operasi, telah hilang. Kemampuan melakukan "pengelabuan" kini sulit diwujudkan. Tujuan militernya adalah menghantam Teheran, menurut ungkapan Trump, "sangat keras", lalu mengaktifkan struktur bersenjata etnis dan ideologis untuk merebut kota-kota dengan dukungan udara.
Rencana ini mungkin berhasil pada pagi 13 Juni seandainya Khamenei terbunuh, jumlah rudal dihitung dengan tepat, dan kelompok-kelompok digerakkan hari itu. Namun, pada tahap sekarang, Iran telah melihat risikonya dan mengambil semua langkah pencegahan yang diperlukan. Struktur pertahanan mosaik Iran juga akan mencegah keberhasilan konsep "pemenggalan kepemimpinan". Membunuh pemimpin beserta timnya mungkin menimbulkan kekacauan di negara seperti Libya atau Irak, tetapi struktur politik dan sosiologis Iran tidak rentan terhadap hal itu. Persoalan ini juga tidak semestinya dinilai berdasarkan kegagalan militer Iran sebelumnya. Langkah-langkah itu bersifat ofensif dan jauh melampaui kekuatannya. Adapun skenario saat ini adalah perang defensif yang berlangsung di wilayah Iran sendiri.
Turki, Pakistan, dan negara-negara Teluk tidak menginginkan ketidakstabilan di Iran. Semua negara ini memiliki hubungan aliansi dengan AS dan menjaga hubungan baik dengannya. Karena itu, sekutu-sekutu AS sangat menentang keinginan Israel melancarkan serangan. Terutama dengan mempertimbangkan sejarah peran mediasi Turki dan hubungannya dengan Iran, penyelesaian persoalan ini melalui jalur diplomatik bukan hal mustahil. Politik Turki yang bertumpu pada kepercayaan pihak AS maupun Iran dapat dikembangkan menjadi solusi.
Namun, pihak Israel kemungkinan ingin menyabotase proses itu dari segala arah agar usahanya tidak sia-sia. Ketika Iran secara terbuka menyatakan bahwa konflik potensial akan berubah menjadi perang regional, tetapi tetap meminta perundingan, menyeret seluruh kawasan ke dalam ketidakstabilan hanya karena kekhawatiran keamanan Israel bukan saja akan merugikan AS dan Israel di dalam negeri, melainkan juga dapat menimbulkan masalah dalam hubungan AS dengan sekutu-sekutunya di kawasan.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di Daily Sabah pada 2 Februari 2026.
