Oral TOĞASitus Pribadi
ID

Bagaimana Memahami Penekanan Pezeshkian pada Identitas Turkiknya?

Oral Toğa19 Juli 20245 menit baca

Di negara kita, setiap kali Iran dibicarakan, orang memulainya dengan pernyataan, “Ada 40 juta orang Turkik di Iran.” Namun, siapa pun yang terjun langsung ke lapangan akan melihat dengan jelas bahwa, berbeda dari anggapan umum, masyarakat Turkik Iran sangat nyaman dengan identitas “keiranan” mereka. Sebab, mereka memandang diri sebagai pemilik, bahkan unsur pendiri Iran. Hampir segala sesuatu dalam seribu tahun terakhir sejarah Iran mereka anggap sebagai sumber kebanggaan.

Ilustrasi: Cemile Ağaç Yıldırım.

Presiden baru Iran Masoud Pezeshkian lahir pada 29 September 1954 di Mahabad, di Provinsi Azerbaijan Barat yang berbatasan dengan Turki. Dalam nama keluarga Pezeshkian, seorang ahli bedah jantung yang berhasil dan mantan menteri kesehatan, kata pezeshk berarti “dokter” atau “tabib” dalam bahasa Persia. Akhiran -yan, ketika menjadi bagian nama keluarga, bermakna “putra dokter”, “yang berkaitan dengan dokter”, atau “keturunan dokter”. Karena akhiran ini digunakan dalam nama keluarga, menerjemahkannya sebagai “para dokter” adalah keliru. Nama keluarga semacam ini sangat umum dalam bahasa Persia dan biasanya menunjukkan bahwa keluarga tersebut dahulu memiliki hubungan dengan profesi kedokteran.

PRESIDEN YANG SEORANG DOKTER

Pada 1990-an, Masoud Pezeshkian menjabat rektor Universitas Ilmu Kedokteran Tabriz, tempat ia menamatkan pendidikan. Setelah menjalankan proyek-proyek penting untuk mengembangkan pendidikan kedokteran dan layanan kesehatan pada masa itu, ia menjadi wakil menteri kesehatan, kemudian menteri kesehatan, di bawah Mohammad Khatami. Baik ketika menjadi rektor maupun menteri, ia memulai program yang mendorong perluasan layanan kesehatan ke pedesaan. Perlu dikatakan bahwa kegiatan inilah yang membuka jalannya menuju kepresidenan saat ini. Sebab, masyarakat pedesaan yang memilih calon konservatif mengenalnya sejak masa tersebut serta mengetahui investasi yang ia lakukan untuk pedesaan ketika itu dan sepanjang karier politik sesudahnya. Hal ini sangat memengaruhi perilaku pemilih.

Kisah keluarga Pezeshkian juga banyak dibicarakan di Iran. Pada 1994, ia kehilangan istrinya, yang juga seorang dokter, akibat kecelakaan lalu lintas. Setelah kehilangan itu, ia tidak menikah lagi dan membesarkan anak-anaknya sendiri. Putrinya, Zahra, mendampinginya sepanjang kampanye. Ketiadaan tuduhan korupsi dalam rekam jejaknya serta catatannya yang bersih, terutama dibandingkan rivalnya Ghalibaf, menjadi faktor lain yang memberinya keunggulan dalam pemilihan ini. Alih-alih menganalisis proses pemilihan, tulisan ini akan secara singkat membahas latar belakang pernyataan Masoud Pezeshkian mengenai identitas Turkik yang kerap disorot di negara kita.

NYAMAN DENGAN IDENTITAS KEIRANAN

Penggunaan bahasa Turki dan penekanan Pezeshkian pada identitas Turkik banyak menjadi pembicaraan di Turki. Secara umum, terdapat anggapan baku di Turki tentang masyarakat Turkik Iran. Akibatnya, setiap pemimpin politik Iran yang berbicara bahasa Turki menjadi sorotan di Turki. Misalnya, salah satu alasan terbesar mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad lebih populer dan begitu dikenal di Turki dibandingkan di Iran adalah kebiasaannya sesekali berbicara bahasa Turki, terutama dalam pertemuan bilateral dengan Turki. Padahal, berbeda dari keadaannya di Turki, Ahmadinejad dikritik keras oleh kubu reformis maupun konservatif di Iran dan telah lama berada di luar sistem.

Di negara kita beredar anggapan bahwa ada 40 juta orang Turkik di Iran dan semuanya, boleh dikatakan, “menggebu-gebu” menginginkan kemerdekaan. Bahkan, banyak orang selalu membuka pembicaraan mengenai Iran dengan kalimat, “Ada 40 juta orang Turkik di Iran.” Namun, siapa pun yang terjun ke lapangan akan melihat dengan jelas bahwa, berbeda dari anggapan umum, masyarakat Turkik Iran sangat nyaman dengan identitas “keiranan”. Mereka memandang diri sebagai pemilik, bahkan unsur pendiri Iran. Hampir segala sesuatu dalam seribu tahun terakhir sejarah Iran mereka anggap sebagai sumber kebanggaan. Bahasa Turki dapat didengar di kantor pemerintah, di jalan, serta sesekali di televisi atau radio. Namun, bahasa Persia selalu menjadi bahasa resmi semua negara yang pernah memerintah Iran.

Di Iran, istilah “bahasa Turki” tidak merujuk pada bahasa Turki Istanbul, melainkan bahasa Turki Azerbaijan yang dituturkan di sana. Bagi orang Iran, nama bahasa yang digunakan di Turki adalah “İstanbulî”. Demikian pula, istilah “orang Turkik” di Iran merujuk bukan pada orang Turki dari Turki, melainkan pada orang Turkik Azerbaijan. Karena itu, hubungan Turkik-Iran dan hubungan Turki-Iran merupakan dua persoalan berbeda. Seiring kebangkitan nasionalisme Persia dan pan-Iranisme pada masa Pahlavi, tekanan terhadap masyarakat Turkik meningkat. Orang-orang dipaksa berbicara bahasa Persia dan mulai mengalami penindasan. Tekanan ini memperkuat arus pan-Turkisme di Iran dan membuatnya cepat memperoleh pijakan di negara tersebut.

TERINTEGRASI KE DALAM SISTEM

Dinamika nasionalisme Turkik di Iran sangat berbeda dari dinamika di Turki, baik secara historis, filosofis, maupun sosiologis. Banyak faktor menopangnya, dan masing-masing memiliki logika tersendiri. Pertama, tidaklah terlalu keliru untuk mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat Turkik Iran memandang Iran sebagai tanah air mereka, meskipun tidak mengorbankan bahasa dan identitasnya. Sebab, terdapat ribuan orang keturunan Turkik di lembaga pendidikan agama maupun sistem negara, dan mereka menempati posisi tinggi dalam pemerintahan Iran. Ribuan orang keturunan Turkik juga dapat dijumpai dalam Korps Garda Revolusi Islam dan organisasi Basij yang berada di bawahnya.

Demikian pula dalam dunia usaha. Di kalangan orang Iran, masyarakat Tabriz dikenal karena keberhasilannya dalam perdagangan. Perdagangan seolah berada di tangan mereka. Pengusaha asal Tabriz umumnya berada di balik usaha-usaha besar di negara ini. Hal tersebut juga terlihat pada nama produk. Misalnya, produsen jus buah terbesar di Iran bernama “Sen-İç”. Merek pintu otomatis terpentingnya pun bernama “Açılan-Door”. Banyak lelucon dan cerita jenaka beredar tentang keberhasilan dagang masyarakat Tabriz. Mereka yang berpandangan pan-Turkis mengatakan bahwa orang Persia membuat lelucon itu karena iri terhadap keberhasilan masyarakat Turkik. Singkatnya, keliru jika masyarakat Turkik di Iran disebut sebagai komunitas yang sepenuhnya tersisih dan terpinggirkan. Mereka sepenuhnya terintegrasi dalam sistem. Di dalamnya terdapat kelompok-kelompok dengan pandangan separatis pada tingkat yang berbeda-beda. Namun, pemikiran orang-orang yang berpandangan demikian pun bukan tanpa dasar.

KONFLIK TURKIK-PERSIA

Sejak masa Pahlavi, terdapat konflik Turkik-Persia di Iran yang kian hari semakin tajam. Konflik ini sesekali kembali berkobar ketika kelompok nasionalis Persia di dalam struktur kekuasaan yang mapan dan pers Iran menafikan, menghina, serta merendahkan masyarakat Turkik. Hal tersebut menimbulkan reaksi terhadap negara dan penguasa Iran di kalangan yang jumlahnya tidak kecil. Menurut perspektif ini, tidak ada yang disebut “orang Turkik Azerbaijan”. Penduduk di sana dianggap sebagai orang Azeri, kelompok Iranik lain yang lama-kelamaan menjadi Turkik dan melupakan identitas asalnya. Pandangan nasionalis Persia memiliki pengaruh yang tidak dapat disangkal di dalam struktur kekuasaan Iran yang mapan. Karena itu, kebijakan asimilasi terhadap masyarakat setempat pernah dijalankan dari waktu ke waktu. Hal ini menimbulkan kebangkitan nasionalisme reaktif terhadap bahasa Persia dan orang Persia di kawasan tersebut. Reaksi masyarakat Turkik perlu dibaca dalam konteks ini.

Ketika Anda mencoba berbicara bahasa Persia dengan seseorang dari masyarakat Turkik di Iran, begitu ia mengetahui bahwa Anda orang Turki, ia akan berhenti menggunakan bahasa Persia dan menjawab, “Mari berbicara dalam bahasa kita sendiri.” Persoalan bahasa menjadi sangat sensitif akibat berbagai praktik sepanjang abad ke-20. Demikian pula, sangat mungkin Anda menemukan pedagang di Ardabil atau Urmia yang tidak menanggapi ucapan dalam bahasa Persia. Namun, semua ini tetap tidak berarti bahwa kelompok-kelompok tersebut secara langsung memusuhi negara Iran. Sebab, orang-orang yang sama membanggakan sejarah mereka, terutama Shah Ismail, dan mengeklaim bahwa merekalah yang membangun peradaban di Iran. Tidak sedikit pula yang menyatakan bahwa orang Persia sama sekali tidak menyumbang pada peradaban ini. Singkatnya, yang terjadi di Iran pada dasarnya adalah sikap reaktif terhadap kebangkitan nasionalisme Persia. Sebab, “orang Turkik” dan “identitas Turkik” terus-menerus dihina kelompok nasionalis Persia tersebut. Bahkan, ungkapan “benar-benar Turkik” mereka gunakan sebagai hinaan bagi orang yang “tidak mampu memahami” atau “tidak berakal”. Semua ini lebih merupakan jawaban “Tidak, saya orang Turkik” terhadap penegasan orang Persia bahwa “Kalian bukan orang Turkik”, alih-alih permusuhan terhadap negara Iran.

GAYA HIDUP SEKULER

Salah satu hal yang mendekatkan masyarakat Turkik Iran pada pan-Turkisme ialah penolakan terhadap Republik Islam. Di antara penduduk Turkik yang memilih gaya hidup lebih sekuler dan menentang Republik Islam Iran, oposisi terhadap republik itu pun dilakukan di bawah payung pan-Turkisme. Di sini terdapat sikap yang secara langsung menentang sistem. Namun, jika suatu hari Iran kembali menjadi sekuler, belum tentu kelompok-kelompok ini ingin mempertahankan aspirasi separatis mereka. Kelompok lain berpendapat bahwa tidak boleh hidup bersama orang Persia dalam bentuk apa pun dan bahwa Azerbaijan harus bersatu serta merdeka. Masyarakat Turkik yang kehidupan dan penghidupannya telah mapan cenderung menjaga jarak dari retorika ini. Sikap keras negara Iran terhadap kelompok tersebut juga menjauhkan orang dari retorika semacam itu.

Terakhir, perlu disebutkan adanya kelompok di kalangan masyarakat Turkik Iran yang berusaha meraih keuntungan politik dan pribadi dengan memanfaatkan perhatian kaum nasionalis di Turki kepada masyarakat Turkik di Iran, sambil mendistorsi keadaan di sana. Menurut kelompok ini, “Semua orang Turkik di Iran ditindas di bawah rezim Persia dan menunggu dukungan Turki untuk merdeka.” Ini pendekatan yang sangat keliru karena, seperti disebutkan di atas, sebagian besar masyarakat Turkik di sana memandang diri sebagai pendiri dan pemilik negara Iran.

DI MANA POSISI PEZESHKIAN DALAM SEMUA INI?

Penekanan Masoud Pezeshkian pada identitas Turkiknya harus dibaca dalam konteks tersebut. Ketika mengatakan “Saya orang Turkik”, Pezeshkian tidak menolak menjadi orang Iran. Sebab, di Iran, mengakui identitas Turkik tidak berarti menolak identitas keiranan. “Iran” merupakan identitas payung bagi lebih dari 30 kelompok etnis di negara itu, dan orang Persia hanyalah salah satunya. Jika Pezeshkian memang seorang “nasionalis Turkik” seperti yang dibayangkan, jangankan pencalonannya dalam pemilihan presiden disetujui sistem, ia bahkan tidak akan bisa berpraktik sebagai dokter di negara tersebut. Para rivalnya pun menuduhnya menganut pan-Turkisme dan mencapnya separatis. Memang benar bahwa Pezeshkian adalah sosok khas yang berani bersuara dalam banyak persoalan. Namun, pernyataannya bertumpu pada gagasan bahwa “masyarakat Turkik merupakan unsur asli Iran”. Seandainya retorikanya berlandaskan separatisme atau nasionalisme, mustahil ia mencapai jabatan ini dari pusat sistem itu sendiri.


Artikel ini pertama kali diterbitkan pada 10 Juli 2024 di surat kabar Yeni Şafak.