
Ketika masih menjadi mahasiswa sarjana, saya menemukan pembahasan tentang sastra dan tradisi ashugh dalam salah satu karya Fuad Köprülü, dan persoalan ini sangat menarik bagi saya. Saat itu, saya menelaah bait dan gazal yang ditulis dalam bahasa Yunani, Albania, dan Serbia untuk menelusuri jejak warisan budaya kesultanan. Saya melihat bahwa hampir semua persoalan ini belum cukup dikaji dan ingin setidaknya menulis sebuah artikel. Saya pun bertanya-tanya apakah mungkin menulis tesis magister tentang warisan budaya tersebut. Ketua jurusan saya saat itu langsung menepisnya: “Ini pekerjaan sia-sia. Hal seperti ini tidak bisa dijadikan tesis magister.” Namun, karena tetap merasa tertarik, saya terus mendalaminya dan menyusun berkas kajian. Sayangnya, setelah berpindah bidang, saya tidak pernah punya waktu untuk menekuninya secara akademis sebagaimana mestinya. Meski demikian, melalui tulisan blog ini saya ingin menyinggung dan menuliskan sedikit hal tentang sastra ashugh atau aşık Armenia, yang berakar pada sastra aşık dan para penyair rakyat Turki.
Ashughakan grakanutyun (Աշուղական գրականություն), yakni sastra ashugh, merupakan tradisi sastra lisan dan tulisan yang memiliki tempat penting dalam kebudayaan Armenia. Tradisi ini mencakup rentang waktu dari abad ke-16 hingga abad ke-20. Kata “ashugh” (աշուղ), sebagaimana tampak dari namanya, adalah kata “aşık” dalam bahasa Turki dan secara etimologis berasal dari bahasa Arab. Tradisi yang terutama berakar pada para penyair rakyat Turkik dan sastra aşık di wilayah Azerbaijan ini muncul pada abad ke-16 hingga ke-17. Sebutan untuk seniman yang dalam bahasa Armenia juga dikenal sebagai “gusan” (գուսան) ini kemudian digunakan untuk menyebut penyair rakyat dan penyair pengembara. Ashughner (աշուղներ), yakni para ashugh, biasanya merupakan seniman yang mengembara di tengah masyarakat, menyanyikan puisi, dan menuturkan cerita dengan iringan saz (սազ) atau alat musik lain.
Perkembangan sejarah tradisi ashugh berkaitan erat dengan perubahan yang dialami kebudayaan Armenia. Tradisi ini mulai terbentuk pada abad ke-16 dan mengalami masa keemasan pada abad ke-18. Pada masa itu muncul ashugh ternama seperti Sayat-Nova (Սայաթ-Նովա), yang memberikan sumbangan penting bagi sastra Armenia. Para ashugh umumnya mendapat pendidikan agama, menguasai lebih dari satu bahasa, dan bepergian melintasi wilayah luas. Ciri-ciri ini memungkinkan mereka menyerap pengaruh berbagai kebudayaan dan mencerminkannya dalam karya mereka. Ashughakan yerger (աշուղական երգեր), yakni puisi ashugh, biasanya berpusat pada ser (սեր, cinta), bnutyun (բնություն, alam), sotsialakan ardarutyun (սոցիալական արդարություն, keadilan sosial), dan kronakan temaner (կրոնական թեմաներ, tema keagamaan). Karena ditulis dalam zhoghovrdakan lezu (ժողովրդական լեզու), yakni bahasa rakyat, dan menyajikan cuplikan kehidupan sehari-hari, puisi-puisi ini menjangkau khalayak luas. Karya para ashugh kemudian dituangkan ke dalam tulisan dan menjadi bagian penting sastra Armenia.
Para penyair biasanya menciptakan karya dalam ragam bahasa yang dikenal sebagai zhoghovrdakan hayeren (ժողովրդական հայերեն), atau bahasa Armenia rakyat, maupun mijin hayeren (միջին հայերեն), atau bahasa Armenia Pertengahan. Pilihan bahasa ini membuat karya mereka dapat dipahami dan diterima masyarakat luas. Namun, beberapa penyair juga berkarya dalam bahasa Armenia klasik yang disebut krapar (գրաբար). Hal ini memperlihatkan penguasaan mereka atas budaya rakyat sekaligus sastra tinggi. Sifat multibahasa sastra ashugh pun patut diperhatikan. Sebagai contoh, sebagaimana disinggung di atas, ashugh ternama Sayat-Nova menulis puisi bukan hanya dalam bahasa Armenia, melainkan juga bahasa Georgia, Turki Azerbaijan, dan Persia. Kemultibahasaan ini merupakan contoh paling jelas tentang interaksi lintas budaya yang berlangsung di wilayah tersebut pada abad-abad itu.
Memasuki abad ke-20, faktor seperti modernisasi dan urbanisasi turut memengaruhi tradisi ashugh. Meski begitu, tradisi ini tidak sepenuhnya menghilang; sebaliknya, ia terus bertahan dengan bentuk dan cara pengungkapan baru. Kini tradisi ini dianggap sebagai bagian penting warisan budaya Armenia. Banyak peneliti dan seniman mengkajinya serta menghadirkan penafsiran modern. Banyak karya teater dan musik di Armenia saat ini juga diciptakan dengan mengambil inspirasi darinya. Tradisi ini pun telah dimasukkan UNESCO ke dalam “Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan”.
Ciri-Ciri Sastra Ashugh
Berakar pada sastra aşık Turki, sastra ashugh juga memiliki sejumlah ciri khas. Kemiripannya lebih dekat dengan cabang Kaukasus dan Azerbaijan daripada cabang Anatolia dalam sastra aşık Turki. Ciri paling menonjolnya ialah menjadi jembatan antara tradisi lisan dan budaya tulisan. Meski para ashugh biasanya membawakan puisi secara lisan, karya tersebut kemudian dituliskan sehingga memuat ciri sastra lisan sekaligus tulisan. Hal ini memberikan struktur yang dinamis dan lentur pada sastra ashugh. Berkat ciri tersebut pula, puisinya dapat beredar luas di masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Proses pewarisan ini memungkinkan sastra ashugh mempertahankan daya hidupnya dan terus memperbarui diri.
Ciri penting kedua sastra ashugh ialah sifatnya yang multibahasa dan lintas budaya. Para ashugh biasanya mampu berkarya dalam lebih dari satu bahasa. Seniman-seniman terbesar Armenia berkarya bukan hanya dalam bahasa Armenia, melainkan juga bahasa Turki, Persia, dan Georgia. Ketiga, sejalan dengan sastra aşık Turki, sastra ashugh memiliki ciri tematik dan bentuk tertentu. Puisi ashugh pun biasanya mengangkat tema cinta, alam, keadilan sosial, agama, dan filsafat. Tema-tema ini diolah dengan memadukannya bersama motif kehidupan sehari-hari.
Dari segi bentuk, tradisi puisi ashugh Armenia juga memiliki kesamaan penting dengan sastra aşık Turki. Dalam tradisi ini, bentuk bait empat baris yang dikenal sebagai “koşma” banyak digunakan; dalam bahasa Armenia disebut կատրին atau katrin. Selain itu, bait lima baris bernama “muhammes”, atau հինգյակ, hingyak, dalam bahasa Armenia, merupakan bentuk penting lain yang kerap dijumpai. Puisi-puisi ini biasanya dibawakan dengan iringan kemençe, tar, atau saz. Struktur musikal tersebut membuat puisi mudah dihafalkan dan diwariskan.
Seperti tampak dalam contoh di bawah, meski bağlama juga dijumpai dalam musik Armenia, tradisi ashugh memiliki susunan yang berbeda dari sastra aşık Turki. Alat musik seperti kemençe klasik dan tar lebih banyak digunakan.

Ciri-ciri tradisi ashugh Armenia ini menghubungkannya erat dengan tradisi puisi lisan lain di kawasan. Struktur bentuknya memberi puisi sifat musikal sekaligus membantu penyebarannya dengan cepat di masyarakat. Peran sosial para ashugh bukan hanya menyediakan bentuk ekspresi artistik, melainkan juga menjalankan fungsi penting dalam mewariskan nilai budaya dan peristiwa sejarah antargenerasi. Bahasa dalam puisi ashugh Armenia umumnya cukup sederhana untuk dipahami rakyat, tetapi kadang menggunakan pula gaya sastra yang rumit. Tradisi ini terus bertahan sebagai bagian penting sastra Armenia dan kini dihidupkan kembali melalui penafsiran modern. Dengan demikian, tradisi puisi ashugh Armenia dipandang sebagai perwujudan warisan budaya yang kaya, baik dari segi bentuk maupun isi.

Gambaran seorang ashugh
Sekali lagi, sejalan dengan tradisi sastra aşık Turki, aspek pertunjukan menonjol dalam sastra ashugh. Para ashugh biasanya membawakan puisi dengan iringan saz dan melodi tertentu. Pertunjukan ini bukan sekadar penuturan lisan, melainkan penyajian seni yang utuh, mencakup unsur musik dan teater. Pertunjukan ashugh biasanya memuat improvisasi dan mengutamakan interaksi dengan penonton. Dalam pertunjukan, mereka menggunakan intonasi, mimik, dan bahasa tubuh untuk memperkuat pengaruh puisinya. Adu puisi antarsesama ashugh juga menjadi bagian penting dari sifat pertunjukan ini. Melalui adu puisi tersebut, mereka menunjukkan kemampuan improvisasi, keluasan pengetahuan, dan kepiawaian bertutur. Aspek pertunjukan ini berperan penting dalam keberlangsungan sastra ashugh sebagai tradisi yang hidup dan dinamis.
Persamaan dan Perbedaan antara Sastra Aşık dan Sastra Ashugh
Diketahui bahwa para penyair dalam kedua tradisi menjalani kehidupan mengembara. Cara hidup ini memungkinkan mereka mengunjungi berbagai wilayah, mendorong pertukaran budaya, serta membawa karya mereka kepada khalayak luas. Misalnya, ashugh Armenia terkenal abad ke-18, Sayat-Nova, mengunjungi kota-kota seperti Tbilisi, Telavi, dan Yerevan untuk membawakan karyanya. Demikian pula, dalam tradisi aşık Turki, penyair seperti Karacaoğlan dan Dadaloğlu berkeliling Anatolia sambil menyanyikan puisi. Dalam kedua tradisi, penyair menyanyikan puisinya dengan iringan saz atau alat serupa. Ashugh Armenia biasanya menggunakan alat yang disebut “kemençe klasik” atau “tar”, sementara aşık Turki kebanyakan memakai “bağlama” atau “saz”. Bentuk pertunjukan ini menjadi bagian penting tradisi lisan kedua kebudayaan dan melahirkan bentuk seni khas yang memadukan musik dengan puisi.
Dari segi tema, tradisi ashugh Armenia dan aşık Turki menggarap pokok-pokok yang serupa. Cinta, alam, keadilan sosial, dan tema keagamaan umum dijumpai dalam keduanya. Sebagai contoh, terdapat kemiripan tema antara puisi cinta ashugh Armenia Nahapet Kuchak pada abad ke-16 dan puisi cinta aşık Turki Emrah pada abad ke-19. Dalam kedua tradisi, alam kerap menjadi metafora yang mencerminkan perasaan manusia. Keadilan sosial pun sering dibahas oleh penyair Armenia maupun Turki. Misalnya, dapat ditarik kesejajaran antara puisi ashugh Armenia Ghazaros Aghayan pada abad ke-19 yang mengkritik ketimpangan sosial dan karya aşık Turki Mahzuni Şerif pada abad ke-20 tentang ketidakadilan sosial. Tema keagamaan juga memiliki tempat penting dalam kedua tradisi, tetapi agama Kristen menonjol dalam tradisi ashugh Armenia, sedangkan Islam menonjol dalam tradisi aşık Turki. Kemiripan tema ini mencerminkan konteks budaya dan geografis bersama, sekaligus memperlihatkan bahwa masing-masing tetap mempertahankan ciri agama dan budayanya sendiri.
Dari segi bentuk pun, terdapat kesamaan penting antara tradisi ashugh Armenia dan aşık Turki. Keduanya menggunakan bentuk puisi yang serupa. Misalnya, bentuk seperti koşma dan destan lazim dalam kedua tradisi. Koşma biasanya terdiri atas bait empat baris dengan sebelas suku kata per baris dan banyak digunakan oleh penyair Armenia maupun Turki. Destan merupakan bentuk yang lebih panjang dan biasanya mengisahkan peristiwa sejarah atau legenda. Dalam tradisi ashugh Armenia, bentuk yang dikenal sebagai “dasdan” ini sangat mirip dengan destan dalam tradisi aşık Turki. Kedua tradisi juga memiliki perlombaan improvisasi puisi secara berbalasan yang dikenal sebagai “atışma” atau “deyişme”. Sifat pertunjukan ini menunjukkan watak hidup dan interaktif keduanya. Dalam tradisi ashugh Armenia, perlombaan semacam ini disebut “ashughakan mergaran”, sedangkan tradisi aşık Turki menggunakan istilah “atışma” atau “karşıberi”. Pertunjukan seperti ini memungkinkan penyair menunjukkan kemampuan puitis sekaligus pengetahuan umum mereka, dan sangat diminati dalam kedua kebudayaan.
Namun, terdapat pula beberapa perbedaan penting. Kemultibahasaan lebih umum dalam tradisi ashugh Armenia. Ashugh Armenia biasanya berkarya dalam bahasa Armenia serta bahasa Turki, Persia, dan Georgia, sedangkan kemultibahasaan lebih jarang dijumpai dalam tradisi aşık Turki. Sifat multibahasa ini memungkinkan ashugh Armenia menjadi jembatan antarbudaya. Dalam tradisi aşık Turki, para penyair umumnya menggunakan berbagai dialek bahasa Turki, sementara berkarya dalam bahasa lain merupakan praktik yang lebih jarang. Hal ini dapat dikaitkan dengan kenyataan bahwa sepanjang sejarah masyarakat Armenia hidup di bawah pemerintahan berbagai kekaisaran.
Perbedaan penting lainnya terdapat dalam proses perkembangan sejarah kedua tradisi. Tradisi aşık Turki terbentuk dari perpaduan tradisi penyair rakyat Turkik pra-Islam dengan unsur Islam. Dengan kata lain, tradisi ini telah hidup di kalangan bangsa-bangsa Turkik bahkan sebelum kedatangan Islam. Tradisi tersebut terbentuk selama berabad-abad di wilayah luas dari Asia Tengah hingga Anatolia. Misalnya, penyair Turkik Dede Korkut yang hidup pada abad ke-11 merupakan petunjuk bahwa tradisi penyair rakyat Turkik pra-Islam terus berlanjut pada masa Islam. Sebagaimana disebutkan di atas, tradisi ashugh Armenia lebih banyak terbentuk dalam kebudayaan Kristen dan berakar pada penyair rakyat Armenia atau gusan. Tradisi ini memperoleh bentuk yang jelas terutama sejak abad ke-16. Jadi, ia jauh lebih baru dibandingkan sastra aşık Turki. Konteks agama dan budaya yang berbeda ini menimbulkan sejumlah perbedaan dalam metafora, simbol, dan rujukan kedua tradisi. Misalnya, motif Islam dan unsur kebudayaan Alevi-Bektashi sering dijumpai dalam tradisi aşık Turki, sementara ikonografi dan simbol Kristen lebih umum dalam tradisi ashugh Armenia. Hal ini menunjukkan bahwa kedua tradisi mempertahankan identitas budaya dan agama masing-masing, sekaligus terbuka terhadap interaksi regional.

Gambaran Ashugh Sayat-Nova
Beberapa Tokoh Penting Sastra Ashugh
- Nahapet Kuchak (Նահապետ Քուչակ) (abad ke-16)
- Sayat-Nova (Սայաթ-Նովա) (1712–1795)
- Arakel Baghishetsi (Առաքել Բաղիշեցի) (abad ke-17)
- Jivani (Ջիվանի) (1846–1909)
- Shirin (Շիրին) (abad ke-19)
- Ashugh Gevorg (Աշուղ Գևորգ) (akhir abad ke-19–awal abad ke-20)
Aliran-Aliran Sastra Ashugh Armenia
Tiga aliran utama disebut dalam sastra ashugh: Tbilisi, Aleksandropol atau Gyumri saat ini, dan Yerevan. Aliran Ashugh Tbilisi menjadi salah satu pusat terpenting tradisi ashugh Armenia pada abad ke-18 dan ke-19. Dengan tumbuh dalam suasana kosmopolitan Tbilisi, para ashugh aliran ini biasanya berkarya dalam bahasa Armenia serta bahasa Georgia, Turki Azerbaijan, dan Persia. Wakilnya yang paling terkenal ialah Sayat-Nova, yang hidup pada abad ke-18. Karyanya sarat dengan pemikiran filosofis, ungkapan perasaan yang halus, dan metafora.
Aliran Ashugh Aleksandropol berkembang di kota yang dikenal sebagai Aleksandropol atau Gyumri dan lebih berfokus mempertahankan unsur musik rakyat Armenia tradisional. Aliran ini dikenal karena menonjolkan motif lokal dan tema khas budaya Armenia. Para ashugh-nya umumnya berkarya dalam bahasa Armenia dan menjadikan cerita rakyat setempat, legenda, serta peristiwa sejarah sebagai pokok puisi dan lagu. Salah satu wakil pentingnya ialah Jivani, yang hidup pada abad ke-19. Karya Jivani dikenal karena membahas ketidakadilan sosial dan persoalan masyarakat. Aliran Aleksandropol berperan penting dalam pelestarian dan keberlangsungan kebudayaan Armenia.
Aliran Ashugh Yerevan terutama menjadi penting pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, serta memengaruhi pembentukan tradisi ashugh Armenia modern. Aliran ini membahas tema yang mencerminkan arti penting budaya dan politik Yerevan, ibu kota Armenia. Sambil mempertahankan bentuk tradisional, para ashugh-nya memasukkan pula persoalan modern ke dalam karya mereka. Salah satu wakil penting aliran ini ialah Sheram, yang hidup pada awal abad ke-20. Karyanya dikenal melalui tema identitas nasional, patriotisme, dan perubahan sosial. Aliran Yerevan berperan penting dalam penguatan identitas nasional Armenia dan perkembangan sastra Armenia modern.
Beberapa Contoh:
Di bawah ini saya membagikan beberapa contoh. Dari contoh tersebut akan terlihat bahwa tradisi ini berbeda dari tradisi aşık Turki, terutama dalam cara pertunjukannya. Video di bawah merupakan karya berjudul “Kemençe” oleh Sayat-Nova, tokoh paling terkenal dalam tradisi ashugh. Nova dapat berbicara bahasa Turki Azerbaijan dan juga berkarya dalam bahasa itu. “Kemençe” kemudian masuk ke dalam musik kita jauh belakangan dengan nama “Çırpınırdı Karadeniz”.

| Bahasa Armenia | Terjemahan dari bahasa Turki |
Ամէն սազի մէջըն գոված` դուն թամամ տասն իս, քամա՛նչա, Նաքազ մարդ քիզ չի կանայ տեսնի` դուն նըրա պասն իս, քամա՛նչա, Ղա՛ստ արա` է՛լ լաւ օրիրուն էդիվըն հասնիս, քամա՛նչա, Քիզ ինձնից ո՞վ կանայ խըլի` աշուղի բասն իս, քամա՛նչա: Անգաճըդ էրծաթէն պիտի, գըլուխըդ` ջավահիր քարած, Կութըդ շիրմայէմէն պիտի, փուրըդ` սադափով նաղշ արած, Սիմըդ օսկէն քաշած պիտի, էրկաթըդ` փանջարա արած, Օչով ղիմէթըդ չի գիդի` լալ ու ալմասն իս, քամա՛նչա: Ճիպոտըդ վարաղնած պիտի` թահր ունենայ հազար ռանգով. Ձարըդ ռաշի կուդէն պիտի, վուր դուն խօսիս քաղցըր հանգով. Շատին զարթուն կու լուսացնիս, շատին կու քընեցնիս բանգով. Անուշահամ գինով լիքըն` դուն օսկէ թասն իս, քամա՛նչա: Ածողիդ է՛րկու կու շինիս, առաջ չայի, ղափա գ'ուզիս. Կու մեձըրվիս այվընումըն, պարապ վախտի րափա գ'ուզիս. Յիփ վիր գուքաս մէջլիսումըն` քաղցըր զող ու սափա գ'ուզիս, Բոլորքըդ գօզալնիր շարած` մէջլիսի կէսն իս, քամա՛նչա: Շատ տըխուր սիրտ կու խընդացնիս, կու կըտրիս հիվընդի դողըն, Յիփ քաղցըր ձայնըդ վիր կ'օնիս` բաց կու'լի հիդըդ խաղողըն. Խալխին էս իլթիմազն արա` ասին. «Ա՛պրի քու ածողըն»: Քանի սաղ է Սայաթ-Նովէն, շատ բան կու տեսնիս, քամա՛նչա: | Dipuji pada setiap dawai, engkau sempurna dalam segala hal, kemençe, Orang jahat terperangah melihatmu, engkau berdiri menghadapinya, kemençe, Berjanjilah, pada hari-hari baik engkau akan bermain lebih indah, kemençe, Siapa yang dapat merenggutku darimu, engkaulah penuntun sang ashugh, kemençe. Ujung penggesekmu harus dari perak, kepalamu bertatah batu permata, Tubuhmu harus dari marmer, perutmu berhias mutiara, Dawaimu harus ditarik dari emas, penggesekmu dibuat dari besi, Tiada yang tahu nilaimu, engkaulah rubi dan berlian, kemençe. Permukaan penggesekmu bersepuh, berkilau dalam seribu satu warna, Dawaimu harus dari sutra, engkau berbicara dengan alunan manis, Kaubuat banyak orang tetap terjaga, banyak pula kautidurkan dengan lagumu, Engkaulah piala emas berisi anggur manis, kemençe. Pemainmu mengeluarkan dua suara, yang pertama minum teh, yang lain mencari pintu, Engkau berkeliling di tengah ruangan, dan bernyanyi pada waktu luang, Di majelis, engkau merebut hati semua orang dengan suara manismu, Semuanya tersusun indah, engkaulah pusat majelis, kemençe. Kauhibur hati yang amat sedih, kauhentikan gemetar orang sakit, Dengan suara manismu, engkau matang bagai anggur di majelis, Terimalah permintaan ini dari orang-orang, agar mereka berkata, “Panjang umur pemainmu.” Selama Sayat-Nova hidup, banyak hal akan kaulihat, kemençe. |
Di bawah ini terdapat karya Ashugh Jivani berjudul “Sahabat Berbakat”, yang ditulis pada 1902 dan dibawakan Sergey Muradyan.

| Bahasa Armenia | Terjemahan dari bahasa Turki |
Քանքարավոր ընկեր, ինձ մի նախանձիլ, Գոյությունըս գաղափարիդ վնաս չէ, Դու քաղաքացի ես, ես գյուղական ծիլ, Ւմ բանջարս քու հանճարիդ վնաս չէ։ Ես խըսիր եմ գործում, դու ընտիր գորգեր, Իզուր ես նեղանում ինձնից, մարդ-ընկեր Ես եզներ եմ լծել, դու նժույգ ձիեր, Սայլապանս կառավարիդ վնաս չէ։ Քեզ սրտով հարգում ե, պատվում ՋԻՎԱՆԻՆ, Դու միամիտ եղիր, գնա քու բանին, Նա չի կարող հասնել այն աստիճանին, Խեղճ բլուրս բարձր սարիդ վնաս չէ։ | Sahabatku yang berbakat, jangan iri kepadaku, Keberadaanku tidak merugikan pemikiranmu, Engkau orang kota, aku tunas dari desa, Sayuranku tidak merusak kejeniusanmu. Aku menganyam tikar, engkau karpet pilihan, Sia-sia engkau marah kepadaku, sahabat sesama manusia, Aku memasang tali penarik pada lembu, engkau pada kuda-kuda berdarah murni, Kusirku tidak menghalangi pengemudimu. Dengan sepenuh hati Jivani menghormatimu dan memuliakan namamu, Pergilah mengerjakan urusanmu dengan hati tenteram, Ia takkan pernah mencapai tingkatmu, Bukitku yang malang tidak merugikan gunungmu yang tinggi. |
Kini terdapat kelompok-kelompok di Armenia yang berusaha menjaga tradisi ini tetap hidup. Salah satunya ialah “Kelompok Ashugh Sayat-Nova”, yang dikenal sebagai kelompok musik yang didirikan di Armenia untuk melestarikan dan memperkenalkan tradisi ashugh. Di bawah ini terdapat sebuah karya yang lirik dan musiknya ditulis sendiri oleh Ashugh Andranik. Ia merupakan ashugh terkenal di Armenia yang dikenal sebagai pemain musik rakyat Armenia tradisional. Lagu ini digubah dalam gaya khas para ashugh, yakni dengan memadukan puisi rakyat dan musik.

| Bahasa Armenia | Terjemahan dari bahasa Turki |
Ծաղկած դաշտում դարձյալ տեսա իմ յարին, Իմ աննման,իմ գեղանի մարալին, Վարդ էր բացվել մեր սիրո ճանապարհին, Դրախտի մեջ շողշողում է իմ փերին։ Կրկ․՝ (x2) Դրախտի ալվան ծաղիկ է իմ փերին, Անմահական նեկտար ունի շուրթերին։ Անցնում էի ծաղկադալար պուրակով, Սիրտս լցված նրա սիրո կրակով, Հնդստանը թեկուզ ման գաս ճրագով, Միևնույն է աննման է իմ փերին։ Դրախտի ալվան ծաղիկ է իմ փերին, Անմահական նեկտար ունի շուրթերին։ Աշուղ Անդրանիկն եմ՝միտքս վարարուն, Յարիս սերը սրտիս խորքում մարմարում, Ով յար չունի խեղճ ու մոլոր անճար է, Իր աշուղով երջանիկ է իմ փերին։ Դրախտի ալվան ծաղիկ է իմ փերին, | Di padang berbunga kulihat lagi kekasihku, Kijangku yang jelita, tiada bandingnya, Sekuntum mawar telah mekar di jalan cinta kita, Bidadariku berkilau di dalam surga. Refrain: (x2) Bidadariku ialah bunga merah menyala di surga, Nektar keabadian ada di bibirnya. Aku berjalan melewati taman berbunga, Hatiku penuh api cintanya, Sekalipun kaujelajahi India dengan lentera, Bidadariku tetap tiada bandingnya. Bidadariku ialah bunga merah menyala di surga, Akulah Ashugh Andranik, pikiranku meluap, Cinta kekasihku membara di hatiku, Yang tak punya kekasih malang dan kebingungan, Bidadariku berbahagia bersama ashugh-nya. Bidadariku ialah bunga merah menyala di surga, |
